| FNB MKS |
 | Tentang FNB MKS |
|
 | Manifesto |
|
 | Terlibat |
|
 | Galery |
|
 | Merchandise |
|
| FNB 4 BEGINNERS |
 | Starter Kit |
|
 | Membuat Sel FNB |
|
| LINKS |
 | Dipepi Free Food Gang Jakarta |
|
 | FNB Bandung |
|
|
|
Rabu, 16 April 2008
Pertanian : Si Kaya versus Si Miskin
Pengembangan biofuel tampaknya tidak semulus yang diharapkan. Ini bisa dilihat dari terhambatnya target Pertamina memasarkan biosolar di 181 stasiun pengisian bahan bakar umum di Jakarta dan Surabaya hingga akhir 2006. Pasalnya, ketersediaan fatty acids methyl ester (FAME) atau biodiesel dari minyak sawit amat terbatas. Pertamina perlu 200 ribu ton FAME untuk mensubstitusi 5 persen konsumsi solar setahun, tapi pasokannya kurang dari separuh. Pertamina memperkirakan, biodiesel hanya bisa dijual di 131 SPBU. Selain itu, karena harga tidak diatur, harga FAME melonjak tajam. Per Oktober, harga FAME Rp 5.300 per liter, lebih mahal ketimbang harga minyak mentah di Midd Oil Platt’s Singapore. Apa yang bisa dibaca dari kondisi aktual ini? Pertama, gencarnya produksi minyak berbahan baku produk pertanian atau nabati merupakan respons yang bijaksana. Selain bersifat ramah lingkungan dan bisa diperbarui, biofuel berbahan baku sumber daya domestik. Ini akan menciptakan lapangan kerja baru dan menstimulasi ekonomi, di samping argumen untuk membangun ketahanan energi sebuah negara. Ketergantungan pada energi fosil membuat bahan bakar ini kian mahal, bahkan menembus lebih dari US$ 70 per barel. Energi fosil juga mencemari lingkungan, cadangannya kian tipis, dan tak bisa diperbarui. Ketika harga energi fosil melambung, banyak negara menoleh biofuel. Kedua, euforia pengembangan biofuel, seperti yang terjadi di Indonesia saat ini, bukanlah hal baru. Secara global, sudah banyak negara yang memproduksi dan memakai biofuel secara komersial dengan memanfaatkan bahan nabati domestik. Jerman, Prancis, dan Austria menggunakan kanola (rapeseed), Spanyol bertumpu pada minyak zaitun (olive oil), Amerika Serikat pada minyak kedelai (soybean) dan jagung, Italia pada bunga matahari (sunflower oil), Mali, India, serta Afrika pada jarak pagar (jatropha oil), Filipina pada kelapa (cocodiesel), Brasil pada tebu, dan Malaysia pada minyak sawit (palm oil). Indonesia mengembangkan biofuel dari tebu, singkong, sawit, dan jarak pagar. Secara ekonomi, jika harga energi fosil terus tinggi, biofuel akan kompetitif. Contohnya, Brasil memproduksi etanol dari tebu dengan biaya produksi hanya US$ 0,16 per liter atau sekitar US$ 26 per barel. Amerika memproduksi etanol dari jagung, walau belum efisien, dengan biaya produksi US$ 59 per barel. Negara-negara Eropa barat ataupun Indonesia dan Malaysia diperkirakan dapat memproduksi biofuel dengan biaya produksi lebih mahal ketimbang Brasil, tapi di bawah biaya produksi Amerika. Para ahli perminyakan sepakat, jika harga energi fosil di atas US$ 60 per barel, biofuel akan kompetitif. Ketiga, dari sudut efisiensi energi yang dihasilkan, walau ada variasi yang lebar, biofuel termasuk efisien. Biofuel berbahan baku tebu termasuk yang paling efisien dalam menghasilkan energi. Untuk satu unit energi yang digunakan, biofuel berbahan baku tebu menghasilkan 8 unit energi. Biofuel berbahan baku beet dan jagung masing-masing menghasilkan 1,9 dan 1,5 unit energi untuk setiap satu unit energi yang digunakan untuk proses produksi (Susila, 2006). Dari berbagai sudut di atas, semua mendorong industri biofuel. Ini akan membuat posisi produk pertanian menjadi kian strategis dan penting. Bagi sektor pertanian, perkembangan baru tersebut amat menguntungkan. Pamor sektor pertanian yang redup, marginal, dan terpinggirkan akan kembali mencorong. Jika selama ini produk pertanian amat bergantung pada pasar tradisional (pangan, pakan, dan sandang), kini ada peluang diversifikasi pasar energi. CPO bisa dijual ke industri minyak goreng yang berakhir di supermarket atau ke industri biofuel yang berakhir di SPBU. Tebu bisa berakhir di pasar dalam wujud gula atau berakhir di SPBU dalam bentuk bioetanol. Demikian pula singkong, kelapa, dan minyak lemak pangan (edible oil) lain. Bagi sektor pertanian, perluasan pasar tersebut tentu akan berdampak positif. Perluasan pasar akan memberi tekanan pada kenaikan harga serta stabilitas harga produk pertanian. Situasi ini berpotensi memperbaiki kinerja sektor pertanian, termasuk peningkatan pendapatan petani. Dalam jangka pendek, perluasan pasar ini akan mampu mengurangi surplus produksi produk-produk pertanian di pasar dunia. Masalahnya, produksi biofuel dari bahan baku minyak lemak pangan akan membuat produk pertanian berada di persimpangan jalan: diproses jadi makanan (food) atau minyak bakar (fuel). Bagi negara-negara nett importer pangan atau negara yang jumlah penduduknya besar, seperti Indonesia, kondisi ini berpotensi memperburuk situasi ketahanan pangan. Kenaikan harga pangan akibat permintaan untuk biofuel akan berdampak negatif pada penduduk miskin yang di dunia jumlahnya lebih dari 2 miliar orang. Indonesia tidak lepas dari masalah krusial ini. Dewasa ini, jumlah penduduk miskin lebih dari 39 juta jiwa (17,75 persen), yang sekitar 70 persen ada di sektor pertanian. Indonesia juga nett importer pangan yang dapat diolah menjadi biofuel: gula (0,6 juta ton), kedelai (1,2 juta ton), dan jagung (1,6 juta ton). Secara global, mengutip Lester R. Brown dari Earth Policy Institute yang berbasis di Amerika, produksi biji-bijian pada 2006 mencapai 1,9 miliar ton. Namun, konsumsi mencapai lebih dari 2 miliar ton. Jadi ada kekurangan 72 juta ton. Di sisi lain, akhir 2007, ada 800 juta orang yang menggunakan komoditas biji-bijian tersebut untuk biofuel. Jika situasi tersebut tidak dapat dikelola dengan baik, secara global akan terjadi “perkelahian” lebih dari 2 miliar penduduk miskin untuk memperoleh makanan dengan 800 juta mobil dan jutaan mesin/pabrik. Pada dasarnya, ini perebutan antara 2 miliar “si Miskin” melawan 800 juta “si Kaya” yang punya mobil dan pabrik/mesin. Untuk Indonesia, situasi adalah arena duel sekitar 39 juta penduduk miskin dengan jutaan pemilik mobil, mesin/pabrik. Masalah akan muncul karena pemilik mobil dan mesin adalah “si Kuat”, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun politik. Karena itu, mudah diperkirakan mereka akan dapat memenangi duel tersebut, dimulai dengan menggunakan cara yang paling halus dan logis sampai yang kasar melalui berbagai rekayasa ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Korbannya adalah “si Miskin” dan “si Lemah”. Mereka akan semakin sulit mengakses pangan. Jikapun pangan tersedia, harganya tinggi dan tak terbeli. Akhirnya, busung lapar, gizi buruk, dan kelaparan dalam berbagai manifestasinya akan merebak. Kecenderungan global untuk mempercepat pengembangan industri biofuel akan memberi insentif peningkatan produksi pertanian. Ini semua memerlukan perluasan lahan. Karena ekstensifikasi kian terbatas, bukan mustahil akan terjadi konversi hutan ke lahan pertanian. Bagi negara-negara yang kondisi hutannya rusak parah, seperti Indonesia, ini hanya akan membuat kondisi lingkungan semakin kritis. Banjir, longsor, dan kebakaran hutan akan datang silih berganti. Hal ini, lagi-lagi, akan membuat “si Miskin” menderita. Pengembangan biofuel adalah respons yang bijaksana. Namun, jika tidak direncanakan secara sistematis dan komprehensif, akan menjadi ancaman ketahanan pangan dan lingkungan. Khudori Pemerhati Masalah Sosial-Ekonomi Pertanian Penulis Buku : Lapar Negeri Salah Urus
Rabu, 02 April 2008
REPORTASE FNB BULAN MARET 2008 (DEPAN HAMZY)
Cihuiii, akhirnya setelah lebih dari 2 bulan absent. Kita bisa tabling lagi teman… Wah seru..seru... Sekedar pengantar.... Berawal dari sebuah diskusi Film di Biblioholic, sebuah kegiatan bulanan yang baru saja dideklarasikan bernama “KREK”. Dalam acara perdananya berupa pemutaran film dan diskusi atau sharing bersama teman-teman yang hadir saat itu bersepakat untuk membuat sebuah aksi langsung, ini berangkat dari kekecawaan banyaknya forum-forum diskusi yang hanya berakhir saling adu argumentasi, wacana ataupun ajang pamer intelektual namun tak pernah ada tindak lanjutnya. FNB menjadi tawaran untuk aksi langsung dari KREK ini. Belum lama sebuah kejadian tragis yang cukup menggemparkan kota Makassar oleh meninggalnya seorang ibu (Dg. Besse), yang menurut media meninggal akibat kelaparan. Sangat Ironis terjadi di antara hiruk pikuk dan pesatnya pembangunan kota ini dan lebih ironis lagi karena masyarakat kita tak bisa melihat ini sebagai hubungan yang saling terkait. Kita telah teralienasi dari kepekaan dan sisi humanitas karena yang dominan adalah individualitas kita yang hanya dan hanya untuk memiliki lewat mengkonsumsi. Kebaikan-kebaikan tak lebih lebih dari sebuah topeng-topeng sosial dan bakti amal di balik simbol-simbol, identitas, logo baik oleh korporasi, agama ataupun kepentingan politik. SUCK”S!!! yang hingga saat ini dan yakin sampai kapanpun tak akan pernah menyelesaikan kehidupan manusia yang semakin banal ini. Sebuah cobaan berat di saat kita menampilkan sebuah tawaran untuk mengembalikan lagi sisi-sisi kehidupan yang telah dihilangkan, akan diperhadapkan pada respon-respon yang tak lebih dari sebuah gambaran apatisme. Tapi bukan sesuatu yang tidak mungkin, karena penerimaan sesuatu bertitik tolak dari pembiasaan-pembiasaan yang akhirnya menjadikannya mungkin. Seperti sebuah reklame yang terus membuntuti dan membiasakan kita untuk tak melepas pandangan hingga kita yakin untuk memilihnya. FNB adalah satu dari sekian banyak yang mungkin saat ini hanya bisa menjadi simbol akan sebuah tawaran. Sebuah aksi langsung yang sangat sederhana namun memiliki makna filosofis yang luas. “medium is the messages”. Ya, FNB adalah medium sekaligus pesannya bahwa makanan adalah kebutuhan paling esensi dalam kehidupan makhluk hidup (manusia, hewan dan tumbuhan). Makanan tak bisa digolongkan hak ataupun kewajiban tapi sesuatu yang “harus”. Alam telah bekerja dalam sebuah fungsi ekologis sebagai sumber makanan dan dalam keseimbanganya akan terus mencukupi kebutuhan paling esensi ini. Namun yang terjadi adalah sebuah ketidakseimbangan, alam tak lagi berjalan sebagaimana adanya, tereksploitasi dan menjadi komoditas yang hanya dikuasai oleh sebagian orang. Makanan bukan lagi hal cuma-cuma tapi telah melekat label-label harga dan dihiasai oleh citra-citra. Kemiskinan, kekeringan, Kelaparan adalah hal yang tak bisa dihindarkan, ada yang mati-matian bekerja untuk mencari sesuap makanan sedang di sisi lain ada yang menumpuk-numpuk makanan dan mati-matian menguruskan badan. Betapa konyolnya jika ini dianggap sebuah kewajaran atau takdir kehidupan. “Medium is the messages” . FNB, membawa pesan bahwa siapapun tak pantas lapar di muka bumi ini, makanan adalah esensi yang harus selalu ada dan seharusnya cuma-cuma karena ada cukup makanan yang tersedia untuk semua dan FNB sekaligus medium siapapun bisa saling membantu, berkontribusi dan saling mempertemukan bagi mereka yang berkelebihan bahan dan mereka yang berkekurangan, mengembalikan lagi sebuah hubungan sosial manusia. Sebuah aksi langsung, sangat sederhana lepas dari kerumitan birokratis. Namun FNB hanyalah sebuah kerja sia-sia jika saat kita masih mengangap ini sebuah kegiatan amal atau pengguguran atas kewajiban. FNB seharusnya menjadi sebuah pembiasaan yang akhirnya menjadi bagian dari kehidupan harian kita hingga kita tak lagi menyebutnya dengan nama yang telah melekat padanya. Bayangkan jika tiap saat di berbagai tempat kita menemui dapur-dapur umum yang menyediakan makanan bagi semua. Tentu Dg, Besse masih terus melihat senyum bayi mungil yang telah ditinggalkannya kini. Tapi tidakkah ini akan membentuk sebuah masyarakat yang manja? Pertanyaan yang sering dilontarkan bagi mereka masih terjebak pada kedangkalan pemahaman, karena FNB tidak terbatas pada distribusi akan bahan makanan tapi setiap proses yang berjalan di dalamnya. Prinsip-prinsip kerja yang pernah digunakan berabad-abad lalu saat kehidupan boleh dibilang masih beradab. Swakelola, partisipatoris, non hirarkis, desentralisasi adalah prinsip-prinsip tak terpikirkan lagi, karena kita berada dalam sebuah tatanan yang terus menjerat menjadi masyarakat pasif yang kehilangan kontrol atas diri sendiri, terjebak hingga tertutup akan hal di luar dari pada itu. Hingga tak heran jika ada banyak pertanyaan semacam tadi, sebuah apatisme. Toh menurut saya secara pribadi, apa salahnya masyarakat hidup dalam kenyamanan yang sudah sejak lama di menderitakan oleh keadaan. Semoga tidak menjadi peagung-agungan atas sebuah pilihan karena tak pernah tertutup kemungkinan bagi sesuatu yang lebih baik. Nah, selama kita masih yakin dan percaya dengan cara ini, mari kita benahi kembali FNB hingga ia benar-benar berjalan sebagaimana adanya. .........LONG LIVE......................
Tabling 17 Maret 2008 Akhirnya FNB bersenyawa kembali dan yang kini lebih meriah dengan bertambahnya relawan-relawan baru yang siap membantu walaupun FNB juga telah banyak kehilangan relawan yang telah melanlang entah kemana. Ada sedikit kekecawaan karena tabling tertunda dari jadwal yang disepakati yaitu tanggal 12 Maret 2008 namun karena kurangnya koordinasi karena para relawan yang jarang ngumpul dan juga mungkin tak ada pulsa untuk saling ngontak-ngontakan (entah dan atau apalah). Untung saja dua orang teman yang cukup khawatir jika saja tablingnya gagal, berinisiatif menentukan jadwal, mungkin agak sepihak tapi adalah ini sebuah inisitaif yang sangat baik. Bermodal pulsa yang sedikit lagi berteriak, dihubungilah para relawan-relawan. Nah , jadwal yang kira-kira dianggap baik adalah hari senin 17 Maret 2007.
Minggu, 16 Maret 2008 Menjelang malam . Beberapa relawan telah berkumpul di Idefix, tetap masih menjadi Cookhousenya FNB. Dian, Wali, Dildo, Alan, Aslam, Ipang, dan juga saya setelah berembuk dan membagi peran kemudian dengan cepat semuanya beraksi. Alan, Dian, Aslam, Wali segera mencari peralatan masak, yah seperti biasanya mesti pinjam sana-sini dari teman-teman terdekat. Saya dan Ipang setelah menyusun daftar bahan kebutuhan masak segera meluncur pula ke pasar Daya untuk berbelanja, huh lagi-lagi kita masih mengandalkan uang untuk FNB kali ini. Oh iya, sekedar informasi donasi yang terkumpul sebesar Rp.260.000, itupun hanya berasal dari hasil list seorang teman, Weda. Lagi-lagi karena kurang koordinasi list tak dijalankan seperti biasanya. But, its okey. Dengan dana yang cukup minim tersebut dipilihlah menu masakan yang dianggap bisa tercukupi. Dan untuk kedua kalinya haha “Nasi Goreng” menjadi pilihan. Menu hemat FNB kita, hehehe. Dan sepertinya sudah agak malam, peralatan masak telah lengkap, bahannya juga telah tersedia. Beberapa relawan juga berdatangan, Tomas, Rido, dan Aan (datang membawa banyak Film aneh-aneh, kartun jepang kayanya bagus tapi sayang tak sempat ditonton malam itu). Ruang tengah Idefix, akhirnya dipenuhi lagi dengan tumpukan-tumpukan, diramaikan lagi dengan celoteh-celoteh dan lelucon karena sebelumnya Idefix tengah dilanda kesepian setelah ditinggal oleh banyak Crewnya. Menu hemat, kerja ringan!! Jadinya malam itu tak banyak yang dikerjakan selain kegiatan mengupas ngupas. Ada dua klub yang saling bersaing klub bawang dan klub wortel. Klub bawang beranggotakan Ipang, Dian, Tomas, Aslam, Dildo, Rido, Alan dan sesekali saya ikut nimbrung, beradu dengan klub Wortel yang beranggotakan Wali, dan.....? sendiri? wah pembagian kerja yang tak merata. Pisau sebagai alat produksi telah dikuasai oleh Wali jadi dari pada yang lain tidak bekerja, akhirnya numpuk di klub bawang yang terpaksa kupas bawang pake tangan karena tak mungkin kan kupas wortel pake tangan?. Dan tentu saja pertarungan ini dimenangkan oleh klub bawang, selain karena memang klub wortel setelah mengupas harus melanjutkan kerjanya untuk memotong-motong heheh “Ballasi kodong Wali”. Lain halnya dengan bawang yang setelah dikupas cukup masukkan saja ke mesin penghanjur dan siap menjadi bumbu siap pake. Ah, saya mendapat bagian kerja ini, simpel. Wali mungkin telah tampak kewalahan akhirnya pekerjaan potong-potong wortel diserahkan ke Aan dan Rido. Sudah tengah malam, sesi pertama beres. Pekerjaan selanjutnya akan dikerjakan besok lagi, jadi beberapa di antaranya pulang ke rumah, yang mahasiswa katanya sih pulang mau belajar karena mid besoknya, yang pak guru taulah mesti mengajar, dan ada pula yang pulang karena mesti ngojekin adenya ke sekolah. Hehe, jadi siapakah di antara kalian yang di maksud ini?:) sebagian lagi nginap di idefix, termasuk juga saya.
Senin, 17 Maret 2008 Pagi-pagi Aduuh, sudah jam 7 yang lain masih pada tampak lelap. Dengan berat mata saya juga mesti bangun setelah terlelap 2 jam karena semalaman melanlang di dunia maya sampe jam 5. uuuaaaam, cuci muka dan melanjutkan lagi kerja. Cuci beras lalu masak nasi, hah untungnya Rido juga terbangun jadi sedikit terbantu kewalahanku yang tak pandai memasak nasi ini hehehJ. Pagi-pagi saya dibuat tertawa setelah mengerjai si Dildo, ia bangun terkaget menanyakan jam. Pas saya bilang jam 8, dengan panik dan terburu-buru langsung deh dia mengganti pakaian, mengambil tas dan siap keluar tanpa mencuci muka ataupun mulut setetes pun sangking takutnya terlambat ikut mid padahal pagi itu masih jam 7. AhahahaJ. Mandi dulu Dildo, kasian nanti yang didekatmu!!:) Dildo..Dildo...:). Dian datang , juga Aslam membawa jumbo nasi miliknya sedang yang lain mesti kuliah dulu. Ternyata masak nasi tidak mudah, apalagi dalam jumlah besar begini. Jadwal yang sempat diperkiran akan selesai jam 12 teng lewat. Itupun setelah gagal memperoleh nasi yang sempurna untuk nasi goreng karena yang ada nasinya jadi kelembekan. Hihi lebih pantas dibilang bubur goreng. Ah, saya sempat putus asa dan jatuh semangat belum lagi karena kewalahan mengerjakan berdua dengan Rido karena partisipan yang lain pada belum datang, Dian dan Tomas mesti keluar untuk (ups,... taulah), untunglah Dildo cepat balik dari kampusnya, sedikit terbantukan dan harus sabar karena mesti disuruh-suruh terus sama saya (hehe, am sory Dil lagi panik). Menyesal juga dengan tak hadirnya Ivy sang koki handal kita hari itu, sang jagonya masak. Barulah siang atau sekitar jam satu, satu persatu yang datang. Sibuk-sibuk lagi, menggoreng nasi dilakukan oleh tangan-tangan handal yang mengaduk rata nasi dan bumbu, menyiapkan menu pelengkap (Sambal, acar, telur orak-arik), ada juga menyiapkan pelaratan tabling tenda, meja, piring, gelas, sendok. Sambil juga bersih-bersih lagi Idefix yang berantakan. Sekitar jam 2 semua pekerjaan beres, dengan tiga buah motor yang ada saat itu. Berangkatlah kita semua ke tempat tabling baru yaitu depan jalan Hamzi (depan ruko baru pinggir jalan). Ya, ini adalah tempat baru karena tempat biasa tabling yaitu perempatan Tol Reformasi sedang dirombak total oleh Pemkot untuk pembangunan jalan layang dan kemungkinan kita tak bisa lagi melajutkan tabling di sana. Jadi pindahlah kita ke tempat baru ini dengan pertimbangan tempatnya yang cukup bagus untuk tabling dimana di tempat itu merupakan daerah mangkal para pebecak yang sedang menunggu penumpang dan juga merupakan jalur kendaraan yang cukup ramai untuk memudahkan kampanye atau membagi selebaran tentang FNB. Teng..teng hampir jam 3...selesai pasang tenda, mengatur-atur piring dan peralatan lainnya, selebarannya juga sudah ada. Mulai makanan diserbu oleh orang-orang yang ada di sekitar situ yang kebanyakan adalah pebecak dan para tukang yang sedang membangun ruko di sekitaran nya. Huh, kali ini makanan tak dibagi teratur seperti biasanya karena mereka datang berkerumun langsung mengambil dan melayani diri sendiri, bagus juga tapi masalahnya makanan tidak terjadi distribusi yang merata. Siapa cepat dia dapat, jadinya yang datang belakangan tidak kebagian telur yang memang sedikit karena sudah ludes habis hehehe. Tapi kesan pertama di sana lumayan baik, beberapa teman juga yang membagi selebaran dipinggir jalan menyempatkan untuk berkomunikasi kepada orang-orang yang melintas, walaupun tak bisa pula dipungkiri ada pula respon-respon yang kurang mengenakkan. Tapi seru karena banyak teman-teman baru lagi datang saat tabling ada Weda, Wahyu, Khaidir, Sandy dan temannya (ups,sori saya lupa namanya). Cukup menyenangkan tabling hari itu, dan bagian yang tak pernah terlewatkan adalah ciprat-ciprat yang untung saja Aan sempat membawa kamera dan mendokumentasikannya. Sudah pukul 5 sore lewat dan kayanya akan turun hujan, makanan juga sudah habis kita beres-beres lagi. Piring, gelas, tenda dan lainnya siap angkut. Uh..akhirnya selesai tabling hari ini. tapi belum sampai di sini karena teman-teman melanjutkan untuk mengadakan evaluasi tabling di kafe Inninawa. Sebagian memulangkan peralatan dahulu di idefix, dan sebagian lagi menunggu di Inninawa. Magrib, para relawan telah berkumpul di bale kafe Inninawa. Menyenangkan minum kopi hangat di malam yang agak dingin karena hujan. Satu-persatu mengutarakan kesannya mengenai tabling, banyak pendapat dan akhirnya merujuk pada beberapa point yang menjadi evalusi yaitu : J baik untuk FNB selanjutnya, para relawan bisa mengumpulkan bahan makanan langsung dan meminimalisasi untuk berbelanja. Malam itu, Aan membawa berita gembira kalau dia telah mempunyai link dengan beberapa penjual sayur di pasar Terong dan mereka siap untuk membantu bahan makanan. Wow, keren-keren. J usulan lagi, baiknya kata FNB diganti dengan nama lain yang lebih familiar dengan kondisi dan pemahaman masyarakat., begitu juga dengan spanduk “Makanan Gratis Untuk Semua” sebaiknya diganti juga karena penggunaan kalimatnya yang kesannya kurang baik. J ada sebuah media sederhana, berupa leflet yang memberi gambaran umum mengenai FNB yang akan dibagi kepada siapapun baik mahasiswa atau masyarakat umum sebagai media kampanye ataupun membuka peluang donasi sekaligus memberi informasi bahwa FNB tersebar luas hampir di beberapa daerah dan negara luar . Nah, yang mendapat tugas ini adalah Rido. Ok Rido, lets Campaign! J perlu ada moment khusus, kampanya FNB lewat film dokumenter J selanjutnya adalah penentuan jadwal FNB sebelumnya yaitu Tanggal 12 April 2008 masih di tempat yang sama. Tapi ada pertemuan awal seminggu sebelumnya atas dasar untuk mempermudah koordinasi yang sempat kacau balau. Sip..sip.. J dan terakhir adalah membuat reportase untuk tabling kali ini untuk diposting di blog. Nah, ini dia reportnya hehehe :p :p , ancuuur kan tulisannya :P?
Yup..yup sekiranya sampai di sini. Oh iya, ada kabar baru lagi kalo ada teman dari Black Elvis (Sandy dan temannya tadi ) mau buat sel baru di daerah Hartaco, horee..horee semoga makin ramai tabling di Makassar. Sudah malam...sudah capek...semua kembali ke peraduannya lagi...
Ok....SEE U THEN........................... Elh..MeJ Label: Reportase
Senin, 19 November 2007
HARI PASAR : SEMUANYA GRATIS DI “REALLY REALLY FREE MARKET”
 HARI PASAR : SEMUANYA GRATIS DI "REALLY REALLY FREE MARKET" Teman-teman yang baik, hari sabtu tanggal 24 November 2007 nanti Food Not Bombs Makassar kerja bareng dengan kawan-kawan KONTINUM dan pengelola Toko Buku Idefix akan menggelar acara “Really Really Free Market”. Inilah cari kami merayakan Hari Tanpa Belanja atau Buy Nothing Day. Nah, di Really Really Free Market apapun bisa didapatkan secara GRATIS! Bukan tukaran, barter, atau benefit. Tapi GRATIS SEGRATIS-GRATISNYA! Siapapun bisa terlibat, dan datang ke acara ini. Caranya? Bawa barang-barang yang masih layak pakai untuk digelar di Pasar ini, dan persilahkan siapa saja yang butuh untuk mengambil dan membawanya pulang. Apapun yang bisa dibawa, mulai dari baju, alat masak, pertukangan, sepatu, jaket, payung, kipas angin, termos, sandal, scarf, perhiasan, buku, gorden, mug, dan lain-lain. Tapi kalau masih ada yang sisa, barang-barang tersebut mesti dibawa kembali. Tapi tidak cuman barang, kita juga dapat memberi keterampilan dan jasa kepada orang lain tanpa bayaran sepeser pun! Misalnya, kursus kilat menyablon, bikin brownies, desain grafis, cukil (woodcut), menyulam, hairstyling, pijat refleksi, medical check, kursus gitar, bikin lagu digital, install komputer, meramal, menulis cerpen, konsultasi mode, memperbaiki sepeda motor atau alat elektronik, menari, daur ulang, atau sekedar teman ngobrol. Di samping itu, kami menyiapkan set panggung sederhana, dengan beberapa perangkat yang sederhana seperti gitar akustik, jimbe dan tamborin. Silahkan pakai sepuasnya untuk nyanyi, puisi atau monolog. Seni harus gratis! Ingat, disini tidak ada panitia, tidak ada pengunjung. Juga tidak ada seniman, tidak ada penonton! Datanglah sebagai dirimu, sehingga kita bisa berinteraksi sebagai sesama manusia. Sehari Tanpa Belanja Seperti yang sudah disebutkan, PASAR GRATIS ini untuk memperingati Hari Tanpa Belanja (Buy Nothing Day) yang diperingati di seluruh dunia sebagai aksi kampanye menolak kapitalisme dalam kehidupan harian kita, sebuah sistem yang menyulut masyarakat terjebak dalam konsumerisme, ketimpangan sosial, dan kerusakan lingkungan serta kedangkalan makna hidup. Satu hari tersebut, kita mengajak untuk berhenti mengkonsumsi dan memikirkan dampak prilaku kita yang terhisap dalam ritual konsumsi. Kita semua tahu bahwa konsumerisme telah meniadakan batasan antara kebutuhan dan keinginan akan berbagai produk dan gaya hidup, yang justru kebanyakan di antaranya tidaklah kita butuhkan. Namun media massa, periklanan, bahkan juga sistem pendidikan telah merubah masyarakat menjadi segerombolan maniak belanja, gerombolan yang haus akan barang-barang, dimana didesain sedemikian rupa agar seolah-olah dibutuhkan. Untuk itu, kita harus bekerja agar mendapat upah, yang salah satunya untuk membeli barang-barang yang tidak kita butuhkan. Dalam Hari Tanpa Belanja tahun ini, kami mengajak untuk sejenak menarik diri dari ritual-ritual harian kita, mengambil jarak dengannya dan mengkritisi kehidupan yang kita jalani. Bukankah “kehidupan yang tidak diperiksa, tidak layak untuk dijalani”?
Manusia Tidak Dilahirkan Untuk Belanja Di abad 21 ini, konsumerisme telah menjadi gaya hidup, ideologi bahkan agama masyarakat modern. Dampaknya telah kita rasakan, pusat-pusat perbelanjaan dibangun di mana-mana, merubah budaya masyarakat, dan merusak tatanan sosial ekonomi. Iklan-iklan dibuat begitu massif dengan uang yang jauh lebih besar dari anggaran kesejahteraan sosial. Mall-mall, pusat hiburan, telah menjadi tempat beribadah para ‘umat’. Satu-satunya keinginan batin yang ingin dicapai dalam ‘ritual ibadah’ tersebut adalah kepuasan membeli, sindrom yang telah gagal diidentifikasi sebagai penyakit terbesar abad ini. Konsumerisme telah menyebabkan bumi kita berlimpah limbah, karena semakin banyaknya produk-produk yang diproduksi dan dipasarkan dimana kebanyakan hal tersebut justru tidak dibutuhkan oleh masyarakat. Media, periklanan, dan sistem pendidikan telah ikut mendongkrak bagaimana sebuah masyarakat dirubah menjadi sekelompok orang yang gemar berbelanja, merengkuh ‘hasrat-hasrat membeli’ yang tidak terbatas. Kehidupan manusia diorientasikan pada hanya aktifitas mengkonsumsi, bukan kreasi. Dan berbelanja adalah salah satu ekspresi masyarakat yang kehilangan akal sehat dan kepribadian.
PASAR GRATIS dan penyelamatan lingkungan Dalam PASAR GRATIS tak ada satu pun yang diperjual-belikan, tetapi mengupayakan agar setiap barang dapat lebih berguna sehingga tidak menjadi sampah yang terus menumpuk dan merusak lingkungan kita. Kita tahu bahwa gaya hidup manusia modern telah menyebabkan kerusakan sosial maupun ekosistem. Untuk itu bumi hanya perlu aksi langsung dari setiap individu untuk membuat perubahan nyata. Sekecil apapun perubahan itu, yang penting kita terus mengupayakan agar hal tersebut terus membesar. PASAR GRATIS akan kami gelar secara berkala, mungkin setiap bulan sekali, dua bulan atau tiga bulan. Gerakan ini mengkampanyekan agar kita kritis dalam gaya hidup, bertanggungjawab terhadap apa yang kita lakukan. Silahkan berkontribusi, silahkan datang!
penginisiasi (bukan panitia, ya?)
Food Not Bombs – Makassar Sebuah jaringan aksi dan kampanye Pangan Untuk Semua, berafilisasi secara internasional dengan berbagai kelompok FNB di seluruh kota di dunia. Bekerja secara independen, otonom dan non-hirarkis untuk mengkampanyekan dengan aksi langsung makanan gratis untuk masyarakat umum. Dapat dikontak di : www.fnbmks.blogspot.com Kontinum Kolektif otonomis dan non-hirarkis yang mempromosikan anti otoritarian melalui diskusi, kampanye, dan berteman. Kadang juga bermusik dan tamasya. Sekelompok orang yang berniat membangun tatanan dunia yang indah, tanpa dominasi, eksploitasi dan rasa bosan. Tidak respek dengan partai politik. Sapa di antiotoritarianmakassar@yahoo.com Idefix Mini Bookshop Toko buku mini yang bersahabat, baik harga maupun pelayanan. Tidak punya manajer, dan kasir yang tetap, hanya diskon dan senyum untuk pelanggan-pelanggan setianya. Menyediakan berbagai judul buku dan media alternatif dari yang membuat senyum hingga yang mengerutkan dahi. Dapat diintip di : www.idefixmakassar.blogspot.com
Jumat, 05 Oktober 2007
Reportase September 2007
Reportase FNB September 2007
Idefix masih menjadi cookhouse FNB bulan ini. Minggu sore tepatnya 2 September 2007. Beberapa relawan sudah berkumpul disana (Ulla, Tomas, Himas, Susi, Kurni, Dian, Ridho, Dedi, Wahyu juga saya (Elha) serta lainnya yang mohon maaf kalo tidak ditulis namanya. Lupaka ces !! FNB kali ini tidak seramai yang kemarin. Beberapa teman punya banyak kesibukan lain atau mungkin pula akhirnya tidak ikut lagi karena masih beranggapan kalo FNB adalah kerja yang sia-sia (kalo istilah kawan-kawan relawan, karena isunya tidak SBY-JK he he). Ah Sudahlah, kalo kata orang kebanyakan, lebih penting kualitasnya daripada kuantitasnya, ya kan? Di saat kebanyakan orang terus menerus menggandakan watak otoriternya, dengan memperbanyak 'massa', yakni mereka yang siap untuk melakukan apa saja kata pemimpinnya (ato setidaknya orang-orang yang hobi banget menghegemoni agar tetap punya pengaruh), kami memilih untuk tetap jalan dengan metode yang kami pikir lebih membebaskan, dan tidak ada ruang untuk hal itu. FNB memang hanya kerjaan para pemimpi yang masih percaya pada hal2 yang tidak mungkin dan sudah bosan menunggu datangnya revolusi yang terlalu lama (Cee..cee..ceee!). Masih di hari yang sama, habis magrib seperti biasanya saya dan wahyu mesti berbelanja di pasar. Tempatnya di Pasar Daya’ salah satu pasar tradisional di pinggiran utara kota Makassar jaraknya tidak jauh dari idefix. Kalo pake motor Cuma 5 menit kesana. Setiap FNB pasti belanja di situ, sayangnya belum ada alternatif lain selain membeli, padahal rencananya teman2 mau hunting bahan makanan di pasar siapa tahu saja ada yang mau kasi sisa bahan yang tidak terjual. Entahlah kenapa belum terlaksana. Membeli memang selalu menjadi solusi instan. Tapi kadang juga ada yang ngasih bahan makanan dari temannya relawan walaupun tidak rutin. Itulah kendalanya FNB Makassar, belum ada donasi tetap. Cuma mengandalkan dari list yang dijalankan relawan tiap bulannya, itupun mereka dapat dari teman-teman kuliah atau keluarga dan yang ngasih itu-itu juga tiap bulannya, kadang ada ketakutan, kalo para peyumbang2 bosan disodorkan list terus belum lagi kalo relawan yang dicap seperti peminta-peminta sumbangan yang banyak berkeliaran. Cara mengantisipasinya, palingan relawannya mesti memberikan penjelasan panjang lebar tentang FNB jadi tidak asal minta saja. Walaupun begitu banyak juga sulit menerima penjelasan, kalaupun ada yang nyumbang pasti kiranya ini cuma kegiatan amal atau bakti sosial. Hah, cape de! Kembali ke pasar. Daftar bahan sudak ditulis semuanya, Satu persatu dicek memastikan tak ada yang terlupa. Sekalian tulis harga belinya biar mudah untuk dilaporkan nanti. Seperti biasa pula setiap berbelanja harus melalui proses tawar menawar yang cukup sengit untuk mendapatkan harga yang termurah plus rayu-rayuan supaya ada tambah-tambahan. Itulah enaknya berbelanja di pasar tradisisonal, kalo di mall mana bisa ?. Dari hasil pengumpulan list terkumpul uang Rp. 454.000. Karena menu bulan ini adalah NASI GORENG spesial, jadi beli bahannya tidak terlalu banyak. Bawang putih, bawang merah, garam, kecap, sambal botol dan tentu saja beras menjadi bahan wajib. Tambahannya jagung manis, wortel , daun sup telur, dan kerupuk sebagai aksesoris ada juga timun untuk acarnya. Untunglah seorang teman ada yang ngasih beras 20 liter jadi bisa hemat lagi. Dan lebih membahagiakan ada yang nyumbang tenda !!! J. Jadi dak repot lagi pinjam jauh-jauh. Tambah smangat dong..
Malamnya..
Tidak banyak kerjaan. Susi dan saya menyiapkan bumbu-bumbunya, Ridho dan Kurni memotong wortel itupun supaya bisa kecipratan foto hehehe. Yang lain sibuk dengan aktifitas masing2 ada yang tidur, baca-baca, juga nyanyi2 sendiri . agak sunyi malam itu. Yang ada Cuma suara bising dari si urat leher (bukan relawan) yang ngoceh sepanjang malam (oooo..siapa dia?) eh tiba-tiba mbak Ivi sang koki kita datang, juga temannya Eli membawakan kita sekantong beras lagi. Kehadirannya sedikit bikin ramai Tapi Sayangnya mereka dak nginap malam itu cuma sempat kupas2 bawang duluJ. Dian dan wahyu juga pulang katanya mau kerja tugas n mesti kuliah pagi. Sepi..sepi..
Senin pagi , 06:00 Bangun..bangun. saatnya beraksi kembali. Nasi mulai dimasak. Wah ada yang semangat sekali tuh!! Nongkrong terus di depan kompor sambil ngaduk-ngaduk beras. Hahaha saya tahu dia lagi balas dendam soalnya menjadi salah satu orang yang merugi karena melewatkan FNB bulan lalu (katanya bertepatan dgn acara keluarga) jadinya dia mesti mengobati penyesalan terbesarnya itu J. Aduk terus..(intermezo: buat kalian yang lagi hamil hati-hati saja sama dia soalnya dia punya obsesi besar dengan perut-perut kalian, penyakit aneh apalagi itu?). Eh ada yang datang lagi ... Niar. baiknya masih sempat bantu-bantu sebelum ke kampus. Hehe.. ivi datang lagi, langsung saja dia mengambil peran sebagai koki. Biasa, Sedikit ada konflik kecil di dapur soal metode memasak. Ada yang mau begini,ada maunya begitu. Panas..panas.. untunglah lewat dengan tertawa lagi. Ivi dan Niar, mencampur bumbu dan nasinya. Saya dan Susi membuat telur dadar, Himas menyiapkan piring dan gelas. yang lain menyapkan air juga ada yang nyuci2, wahyu juga sudah datang membawa kerupuk hasil gorengannya. Sedang yang lain kelabakan karena telat kuliah. Sempat banyak yang protes soal pemilihan waktu FNB kali ini, banyak yang bertepatan dengan jadwal kuliah mereka, saya heran juga. Inikan juga hasil kesepakatan. Tapi ada juga yang akhirnya mengorbankan kuliahnya (bukankah kuliah hanya selingan???J).
12:00. Masakan sudah siap. Cookhouse dibersihkan juga, lumayan kotor karena jarang dibersihkan. Termasuk membersihkan diri (Mandi..Mandi). Di luar ternyata sudah banyak teman-teman yang menunggu. Ada juga pak guru Wali yang takut merugi karena dak ikut FNB lalu.ada yang sudah balik dari kuliah juga, wah ada juga tuh yang mengajak teman cewe’nyaJ. Semuanya beres Sarapan. Berangkat deh!!
14:00 Sebuah angkot disewa menuju tempat tabling. Tempat yang sama bulan kemarin. Pertigaan tol reformasi, seperti juga bulan lalu cuaca sangat panas. Sampe di sana terkendala sedkit dengan pengelolanya. Biasalah birokrasi!!katanya harus izin sana sini dulu. Sedikit sabar, akhirnya bapak itu mau dibujuk juga. Mungkin karena lagi lapar, untung-untung bisa makan gratis siang itu hehe (makasih ya pak!). hei ! Dian dan Cia juga datang! jadi tambah ramai deh. Pedagang , tukang becak yang sering mangkal disana juga buruh bangunan dan pekerja jalanan tampaknya sudah mengenali kami. Begitu tenda sudah terpasang . tanpa sungkan-sungkan lagi mereka datang. Kewalahan juga, piring yang dibawa bahkan tidak cukup. Jadi harus ada yang menunggu dulu. Anak sekolah yang melintas juga ikut gabung. Pak wali pun mengajak sharing mereka. Tidak lupa ada yang membagikan selebaran pada pengguna jalan juga orang-orang yang datang. Sebentar saja, makanan sudah habis. Kembali beres-beres. Sebelum pulang. Di akhiri dengan ritual cepret-cepret
15:00 Kembali naik angkot ke Idefix, sebagian ada yang langsung pulang kerumahnya. Piring, gelas dan peralatan lainnya dibereskan kembali. Habis itu beromantisme lagi........... Ngumpul, Duduk-duduk di teras, cerita-certia, tertawa-tawa dan mereview kembali hari ini Ya mau bilang apalagi. SUKSES lah!!!
Tidak penting : secara teknis FNB hari itu sukses, tapi sempat dirusak oleh komentar arogan tentang FNB dari seseorang (yang bukan relawan), yang sedang berada di lain tempat. Ehmmm, YOUR POLITICS ARE BORING AS FUCK, AS YOU, AS YOUR FLAG, AS YOUR WORDS, AS YOUR WHOLE LIFE....
Reported by : Elha Goldman
Label: Reportase
Minggu, 19 Agustus 2007
REPORTASE TABLING - 4 AGUSTUS 2007
Perempatan Tol Reformasi, pada siang yang cukup terik 
Senangnya bisa tabling FNB lagi walaupun jedanya cukup lama sejak FNB 1 Mei lalu, bertepatan dengan MayDay.Boleh dibilang kali ini sukses dan lancar, walau ada sedikit gangguan tapi para relawan Food Not Bombs-Makassar juga sukses mengalihkannya menjadi hal-hal yang lucu dan menyenangkan. Apa sih yang tanpa hambatan? Seperti yang sudah disepakati dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya, Idefix menjadi cookhouse, dan mungkin juga akan tetap seperti itu sampai kita mendapatkan tempat yang lebih terjangkau dari segala penjuru Makassar. Tapi Ipang bilang kalau untuk sementara persiapannya adalah menjadikan Idefix sebagai homebase sel Tamalanrea, jikalau nanti ada kawan-kawan lain yang sudah siap membentuk FNB Mks chapter lain. Tapi berhubung sangat belum siap, Food Not Bombs Makassar belum bisa dipecah-pecah menjadi bersel-sel. Butuh beberapa waktu dan proses lah. Untuk saat ini Hampir tiap malam berkumpul membicarakan mulai dari menu, pengumpulan alat dan bahan, penyebaran list donator, pembagian job dll. Dan dari hasil kesepakatan untuk menunya Nasi, sup, dan sambal goreng tempe emmmhhh. Butuh 2 minggu untuk menyiapkan semuanya. Sulitnya mencari waktu yang tepat dan bahan-bahan yang belum terpenuhi menyebabkan FNB sempat tertunda dari jadwal yang telah ditentukan sebelumnya begitu juga dengan tempat pelaksanaan. Dan akhirnya sehari sebelum tabling, berbagai bahan telah berhasil dikumpulkan seperti beras, sayuran (kentang, wortel, kol, tomat), tempe dan bumbu-bumbu pelengkap juga alat dan perlengkapan masak pun telah tersedia.
03 Agustus 2007, tepatnya jumat malam: Idefix telah telah diramaikan oleh para relawan FNB, saatnya untuk mengolah semua bahan makanan. Ruang tengah tempat gerombolan KINETIK biasanya memutar film, untuk sementara dilalihfungsikan menjadi : dapur umum. Setiap orang mulai mengambil peran, dipandu oleh Ivi sang koki handal nan perfeksionis. Jamil, Eli, Abeng sibuk mengupas-ngupas kentang dan wortel. Ipang, Wawan, Acib, Susi dan Niar memotong-motong hasil kupasan mereka. Walaupun Acib dan Wawan sempat mendapatkan pelatihan singkat memotong wortel dari sang koki karena selalu gagal mendapatkan hasil potongan yang sempurna. Dan tanpa tetesan air mata, Ulla dengan lancar mengiris-iris bawang dibantu Wahyu dan Hera yang kerja sambilan dan selalu siap mobile ke pasar untuk membeli bahan yang kurang. Dan di belakang sana, Dedy si tangan jumbo tampak tegar menadah air dari keran untuk keperluan cuci mencuci, sayur dan beras. Beberapa teman yang lain mengiringi dengan alunan akustik yang selalu siap siaga menjadi pemeran pengganti. Tak lupa cipratan handal dari Madi sang fotografer muda berbakat mendokumentasikan semuanya. Hingga jam 24 : 00 semua dilewatkan dengan sangat menyenangkan,
04 agustus 2007, subuh menjelang pagi: Pekerjaan dilanjutkan kembali. Ivi, Hera, Wahyu dan Himas mesti kepasar lagi membeli bahan dan bumbu yang masih kurang. Sang koki harus ikut karena meragukan kemapuan kamiberbeanja dipasar. Sedang Susi mulai mencuci beras dan menanak nasi, Dedy tetap setia dengan keran pastilah untuk menadah air. Piring, gelas, spanduk , meja dan tenda disiapkan oleh yang lain. Karena waktu yang dijadwalkan sudah dekat, pekerjaan mulai dipercepat. Hingga pukul 14:00. segala pekerjaan dipastikan beres. nasi, sayur dan sambal goreng spesial sudah siap, piring, gelas, galon dan ember untuk cuci-cuci juga sudah lengkap. Untuk mengangkut semuanya Sebuah angkot disewa menuju tempat tabling. 14:30 . tiba di tol reformasi, berdasarkan hasil kesepakatan tempat ini dipilih selain letaknya yang berada di pusat kota, berbagai lajur kendaraan umum berlalu lalang disana agar memudahkan untuk menyampaiakan pesan melalui selebaran juga publikasi secara langsung, selain itu tempat ini juga tempat nongkrong para loper koran, penjual mainan anak, tukang becak juga para buruh bangunan sehingga pembagian makanannya bisa tepat sasaran dan mungkin ini saatnya makan siang untuk mereka.
Sebuah tenda kecil dipasang. Ya! cuaca saat itu memang sangat panas. Spanduk hitam bertuliskan “Makanan gratis untuk semua” dipasang pinggir jalan . awalnya beberapa orang tampak ragu untuk datang, sehingga teman-teman harus mendekati dan memanggil mereka. Memastikan ini adalah makanan untuk semua dan tentunya “GRATIS” berbondong-bondong orang pun mulai datang. Cia, Susi, dan Niar mulai membagikan makanan pada mereka, yang lain membagikan selebaran untuk orang-orang yang datang saat itu, juga kepada para pengguna jalan. Sedang yang lainnya bergantian untuk mencuci piring. Ada juga yang mengajak ngobrol dan ikut makan bareng sambil tukar pikiran dan cari tahu tanggapan mereka tentang FNB. Kebanyakan memuji, tapi ada juga tak hentinya mengajukan banyak pertanyaan. “Ini dananya dari mana?", "Ini bakti sosial atau apa?", "Ini ada hubungan dengan pilkada?" "Tiap kapan? Dan dimana saja?" Dan banyak pertanyaan lain yang menurutku adalah refleksi bahwa masyarakat memiliki kekritisannya sendiri, kita hanya perlu metode untuk dapat berdialog dengan enak. Bukannya menjadi penceramah bagi mereka. Teman-temanpun berusaha sharing memberikan pemahaman tentang FNB kepada mereka. Selebaran pun sengaja dibuat dengan dengan bahasa yang sangat sederhana dan yang mudah dicerna tentang penjelasan FNB. dan tentu saja penekanan bahwa FNB bukanlah kegiatan amal dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan pemerintah, apalagi dengan pilkada ataupun tim sukses salah satu calon gubernur. Malahan selebaran yang dibuat sebenarnya mengandung pesan Anti-Pilkada, lebih tepatnya Anti Elit Politik. Kiri atau Kanan! Selama itu, hampir setiap mata yang lewat atau sekedar singgah di lampu merah, tertuju pada tenda FNB. dan tentu saja, dengan budaya dan kondisi sosial yang teratomisasi, kami tak luput dari respon-respon kurang mengenakkan dari beberapa orang yang diberikan selebaran seperti, "Di rumah saya makanan juga gratis”, “Apalagi ini? “ sambil mengerutkan muka Atau ‘tim sukses ya?” Pastilah bagi pada umumnya orang ini adalah sesuatu sangat aneh. Zaman dimana hidup adalah untuk diri sendiri, mungkin ini adalah aktivitas bodoh yang membuang-buang waktu dan menyiksa diri. Atau FNB tidak beda bedanya dengan kegiatan amal umumnya yang memiliki motif di balik itu.
Memberikan pemahaman tentang FNB mungkin adalah hal tersulit dibandingkan dengan mengumpulkan bahan dan membagikan itu sendiri.
Padahal pesannya sangat sederhana : “Makanan, siapa yang tidak membutuhkannya?” Ataukah mungkin orang-orang selalu merumitkan sesuatu ? Sudah deh, selama masih ada yang mau meluangkan waktu, masih ada yang kelebihan bahan makanan dan ingin membagikannya dan selama ini masih menyenangkan. Tenda kecil, spanduk hitam dan menu spesial akan tersaji dimana-mana. Dan tinggal membuat terus mendekati visi awal FNB.
pukul 17:00 Nasi dalam jumbo tinggal sedikit, walaupun sayurnya masih tersisa banyak. Semua dibereskan kembali. Saatnya untuk pulang. Seperti biasa semua aktifitas diakhiri dengan foto-foto bareng. So, kapan dong kita tabliing lagi????????? (reported by : Elha Goldman)
Label: Reportase
|
|
|